subhannaallah wabihamdih

subhannaallah wabihamdih

membahas tentang agama islam.sunah rosulullah s.a.w, hidup & kehidupan
 
IndeksportalCalendarFAQPencarianAnggotaPendaftaranLogin
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
bismillahirohmanirohim
--


border="0"


border="0"


border="0"

like/ twitter/+1
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Latest topics
» الشيخ محمد العريفي - ضع بصمتك في الخمور 1 - 7
Mon Dec 12, 2011 12:55 pm by indofal

» ceramah syeh afeefuddin
Thu Dec 08, 2011 11:57 am by indofal

» wafat gusdur mantan presiden RI
Mon Dec 05, 2011 11:00 am by indofal

» kumpulan bayi-bayi lucu
Mon Dec 05, 2011 10:53 am by indofal

» Islam sebagai Landasan Politik Melayu
Wed Nov 30, 2011 1:56 pm by indofal

» Lumpur Lapindo dan Dongeng Timun Emas
Wed Nov 30, 2011 1:51 pm by indofal

» Dahsyatnya Pengaruh Dongeng
Wed Nov 30, 2011 1:48 pm by indofal

» Bau Nyale, Teladan Berkorban Pemimpin
Wed Nov 30, 2011 1:45 pm by indofal

» Sumbangan Bahasa Melayu Riau Kepada Bahasa Indonesia
Wed Nov 30, 2011 1:41 pm by indofal

Top posters
indofal
 
barkah
 
Mujahid R. Faezan
 
lestarie
 
NurFirman
 
reva_rn
 

Share | 
 

 Abu Bakar radhiyallahu'anhu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
indofal
Admin


Jumlah posting : 221
field name : 0
Join date : 25.12.10
Age : 42
Lokasi : http://id.netlog.com/indofal

PostSubyek: Abu Bakar radhiyallahu'anhu   Wed Jan 05, 2011 12:29 am

Abu Bakar radhiyallahu'anhu dan

Inkaaru dzdzaat

asalamu alaikum teman-teman

Inkaaru dzdzaat artinya: seorang manusia tidak mementingkan dirinya pribadi saja, dia tidak tamak untuk mengambil keuntungan buat dirinya di dalam kehidupannya, sekalipun hal tersebut adalah suatu yang halal atau di terima oleh masyarakat, dan di dalam syari'at, namun ia senantiasa mengakhirkan dirinya dan memberikan hal tersebut buat orang lain.

Inkaaru dzdzaat artinya: tidak tamak untuk mendapatkan keuntungan buat dirinya sendiri dan tidak membutuhkan pujian..

Inkaaru dzdzaat maknanya: mengakhirkan kebutuhan dirinya, dan mengedepankan kebutuhan atau kepentingan umum, sekalikpun ia tidak mempunyai hubungan keluarga dengan mereka atau mendapatkan keuntungan atau harta.

Inkaaru dzdzaat ialah derajat yang sangat tinggi dalam diri manusia, diri akan semakin dekat ke tingkatan malaikat, bahkan mungkin akan melebihi derajat malaikat, karena malaikat di ciptakan untuk selalu ta'at, sementara manusia di ciptakan dan di depannya terdapat dua pilihan yaitu baik dan buruk.

Contoh paling jelas yang menjelaskan tentang inkaaru dzdzaat ialah inkaaru dzdzaat yang terdapat pada seorang ibu, ketika ia bergaul dengan anak-anaknya, namun perlu di ketahui bahwa inkaaru dzdzaat bukan berarti bahwa manusia tersebut tidak ada nilainya, akan tetapi sebaliknya mereka yang mempunyai sifat inkaaru dzdzaat adalah manusia yang mulia, dan mempunyai derajat tinggi, dan mereka melakukan hal tersebut tidak menunggu balasan dari orang lain.

Seorang ibu misalnya, dia telah melihat di dirinya di depan anak-anaknya telah mengalami keletihan, karena terkadang ia harus begadang, membelanjai anak-anaknya, dan melakukan hal-hal yang lain, akan tetapi ia (seorang ibu) bahagia dengan aktifitasnya tersebut. Karena ia telah menyenangkan anak-anaknya, dan ia tidak memperdulikan rasa letih, begadang, dan sakit yang ia telah rasakan, demikianlah kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya.

Sementara sifat inkaaru dzdzaat yang di miliki oleh seorang mukmin lebih tinggi dari hal tersebut, lebih tinggi dari hubungan antara seorang ibu dengan anak-anaknya, kenapa?

Karena seorang ibu mempunyai ikatan hubungan dengan anak-anaknya secara fitrah, dan alami, dan ia (seorang ibu) tidak bersifat inkaaru dzdzaat kecuali terhadap anak-anaknya, maka terkadang ia tidak menerapkan hal tersebut kepada tetangganya, kepada orang-orang yang dikenalnya, atau mungkin bahkan kepada suaminya.

Adapun mukmin yang memiliki sifat inkaaru dzdzaat akan menerapkan hal tersebut dalam seluruh kehidupannya, ia menerapkannya pada kerabatnya dan kepada orang lain, kepada orang jauh dan kepada orang dekat, kepada teman dan kepada yang bukan temannya, bahkan ia menerapkan hal tersebut kepada orang-orang yang telah mengambil haknya dan menyakitinya, hal ini adalah suatu sifat yang sangat menakjubkan, sangat sulit sekali untuk di terapkan akan tetapi sangat tinggi derajatnya dalam tingkatan keimanan.

Dimanakah rasa lebih mementingkan dirinya sendiri (atau menguntungkan diri sendiri) Abu Bakar radhiyallahu'anhu?

Abu Bakar radhiyallahu'anhu adalah contoh yang sangat ideal mengenai sifat inkaaru dzdzaat, Abu Bakar radhiyallahu'anhu menerapkan sifat inkaaru dzdzaat dalam menunaikan hak Allah swt. Maka Allah swt. Tidak memerintahkan sesuatu dan tidak melarang sesuatu, kecuali Abi Bakar radhiyallahu 'anhu memperhatikan hal tersebut sebesar apapun pengorbanan yang beliau akan tempuh.

Beliau juga menerapkan sifat inkaaru dzdzaat dalam menunaikan hak Rasulullah saw. dan sikapnya dengan menerapkan sifat inkaaru dzdzaat-nya terhadap Rasulullah saw. tidak terhitung jumlahnya, beliau sangat tidak mementingkan dirinya sendiri ketika berada di samping Rasulullah saw, begitupun Abu Bakar radhiyallahu 'anhu telah menerapkan sifat inkaaru dzdzaat ketika bergaul dengan orang-orang mukmin yang lain, sekalipun dari mereka ada yang pernah mengambil hak Abu Bakar radhiyallhu 'anhu.

Silahkan anda cari dalam kehidupan Abu Bakar radhiyallahu'anhu dan teliti, di manakah Abu Bakar radhiyallahu'anhu pernah lebih mementingkan dirinya sendiri?

Anda tidak akan menemukannya, sementara rasa cinta atau ketamakan yang di miliki oleh orang-orang yang lain kepada harta, pangkat, kekuasaan, kebahagiaan, suka terkenal, bahkan cinta kehidupan adalah suatu hal yang alami?

Di manakah hal itu semua dalam diri Abi Bakar radhiyallahu'anhu?

ِ Abu Bakar radhiyallahu'anhu adalah generasi yang suka memberi, sehingga ketika anda membaca sejarahnya maka anda akan menemukan bahwasanya beliau sangat menikmati kegemarannya memberi serta mencari orang-orang yang membutuhkannya, hal ini adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, karena umumnya manusia sangat senang dengan harta dan sangat menyukainya,

Allah swt. Berfirman:

"dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan". (QS. Al Fajr: 20).

Dan di dalam surah yang lain Allah swt. Berfirman:

"Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir". (QS. Al Israa': 100).

Ayat ini menerangkan tentang orang yang mempunyai sifat pelit dan kikir, sementara Abi Bakar radhiyallahu'anhu tidak demikian, Maha Suci Allah Yang telah menciptakannya dengan bentuk seperti itu, Abi Bakar ra. Sangat senang memberi walaupun sebelum beliau masuk islam, kerjanya ialah menjamin orang-orang yang punya diyat (denda), Abi Bakar ra. Sebelum masuk islam bertanggung jawab dalam menanggung denda-denda atau orang-orang yang berhutang, jika beliau meminta kepada orang-orang Quraisy jaminan maka mereka menerimanya, dan jika orang lain yang memintanya maka mereka tidak menerimanya, hal ini adalah pekerjaan yang sangat berbahaya, terkadang beliau menanggung diyat (denda) seseorang, kemudian pemiliknya tidak menerimanya, maka beliau yang membayarnya, artinya pekerjaan ini di dalamnya terdapat suatu kerugian, dan membutuhkan harta yang banyak, serta butuh kepada suatu jiwa yang senang memenuhi kebutuhan orang lain, dan menanggung hutang mereka, jika sikap Abu Bakar radhiyallahu'anhu seperti ini sebelum masuk islam, maka bagaimana setelah beliau masuk islam?

Maka bagaimana keadaannya setelah beliau mendengarkan dari sebuah hadits dari Rasulullah saw. yang di riwayatkan dari Tuhannya Allah swt. Allah swt. Berfirman berfirman di dalamnya: "Bernafkahlah wahai anak cucu Adam, maka akan di nafkahi kalian".???

Hadits tersebut di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah radhiyallahu'anhu.

Bahkan bagaimana keadaan beliau radhiyallahu'anhu setelah mendengar Rasulullah saw. bersumpah bahwasanya harta seorang hamba tidak akan berkurang karena menyedekahkannya?

Abu Bakar radhiyallahu'anhu

menafkahkan seluruh hartanya di jalan Allah swt.

Hal ini adalah pembawaan secara alami, as shiddiq pada permulaan dakwah telah melihat di Makkah berbagai bentuk penyiksaan dan kepedihan yang di rasakan oleh para budak yang beriman, dan hamba di masa itu boleh di perjual belikan, karena para budak tersebut tidak mempunyai hak sama sekali, dengan menyaksikan bentuk penyiksaan tersebut maka jiwa beliau yang halus merasa sakit dengan penyiksaan yang berlebihan ini dari orang-orang kafir Makkah, maka beliau radhiyallahu'anhu bersegera menyelamatkan budak-budak itu dengan membelinya, kemudian beliau memerdekakannya, demikianlah:

"kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al Insaan: 9).

Abu Bakar radhiyallahu'anhu melewati Bilal bin Rabah radhiyallahu'anhu, sementara ia sedang di siksa dengan di tindis oleh sebuah batu besar di Makkah di bawah sinar matahari yang sangat panas, kemudian beliau radhiyallahu'anhu menawarkan tuannya yaitu Umayyah bin Khalf agar ia menjualnya kepadanya, atau beliau radhiyallahu'anhu mengantikan budak tersebut dengan budak yang lain yang lebih kuat darinya, dan bukan seorang muslim, dalam suatu riwayat di terangkan bahwa beliau membelinya dengan 7 uqiyah dari emas (1 uqiyah emas = 29.75 gram).

kemudian terjadi dialog yang alot antara beliau dengan Umayyah bin Khalf, Umayyah berkata dengan maksud ingin membuat hati Abu Bakar radhiyallahu'anhu merasa menyesal:

"seandainya engkau menawari saya dengan 1 uqiyah emas maka saya akan menjualnya kepadamu".

Kemudian Abi Bakar radhiyallahu'anhu menjawab dengan tenang: "Seandainya engkau meminta 100 Uqiyah dari emas maka saya akan membelinya".

Subhanallah, maka rasa sesal itu kembali ke hati Umayyah bin Khalf yang musyrik dan tidak mengetahui kemuliaan yang di miliki oleh Bilal radhiyallahu'anhu setelah islam, akan tetapi Abi Bakar radhiyallahu'anhu mengetahui hal tersebut, demikianlah budak yang hitam ini yang tidak ada sama sekali nilainya di mata orang-orang musyrik, budak yang hitam legam ini sangat berat timbangan pribadinya di timbangan Allah swt., di sebabkan keimanan dan ketauhidan serta islam yang terdapat di dalam hatinya, makna-makna yang halus dan sangat mulia ini tidak akan di pahami oleh orang-orang yang berpaham materialisme, akan tetapi orang yang seperti Abu Bakar radhiyallahu'anhu sangat memahaminya dengan baik.

Abu Bakar radhiyallahu'anhu membeli Abis radhiyallahu'anha dan memerdekakannya, beliau membeli Zinniirah radhiyallahu'anha kemudian memerdekakannya dan beliau juga membeli an Nahdiyah dan putrinya radhiyallahu'anhumaa dan memerdekakannya, keduanya mempunyai kisah yang sangat menakjubkan yang di riwayatkan oleh Ibn Ishak di dalam kitab sejarahnya, di sebutkan bahwa an Nahdiyah dan putrinya adalah milik seorang perempuan dari Bani Abdul ddaar, kemudian Abi bakar radhiyallahu'anhu melewati keduanya, keduanya sedang di utus oleh majikannya dengan membawa tepung untuk majikannya, dan ia (majikannya) mengatakan:

"demi Allah, saya tidak akan memerdekakan kamu berdua selamanya".

Kemudian Abi bakar berkata: lepaskan wahai ummu fulan, yakni lepaskanlah dari sumpahmu, maka ia menjawab: lepaskanlah kamu..

Maka Abu bakar radhiyallahu'anhu bertanya: "berapa harga keduanya?

Ia menjawab: sekian dan sekian, Abi Bakar radhiyallahu'anhu menjawab: " saya mengambil keduanya, dan keduanya merdeka, dan berkata kepada kedua budak tersebut kembalikanlah tepung itu kepadanya'.

Di sini kita akan melihat jawaban yang sangat lembut dari ke dua hamba perempuan tersebut yang telah masuk islam, yang keduanya telah berakhlak dengan akhlak islam yang tinggi, keduanya berkata: kami selesaikan dulu perintah (dia) wahai Abu Bakar, kemudian kami kembalikan kepadanya?

Subhanallah, setelah keduanya selamat dari penganiayaan yang menydihkan, dan penghinaan, ke duanya masih senantiasa menjaga harta majikannya, Abu Bakar radhiyallahu'anhu berkata;

"lakukanlah hal tersebut jika kamu ingin melakukannya".

Kemudian Abu bakar radhiyallahu'anhu melewati seorang budak perempuan milik Bani Mu'mil (salah satu kampung dari Bani 'Addi) dan ia seorang muslimah,sementara Umar bin Khattab pada waktu itu masih dalam keadaan musyrik, dan ia sangat keras terhadap orang-orang muslim, sehingga ia memukul budak tersebut dengan keras dalam waktu yang lama, kemudian ia meninggalkannya dan mengatakan:

"Sesungguhnya saya tidak akan meninggalkanmu (berhenti memukul) kecuali setelah saya bosan".

Kemudian Abi bakar radhiyallahu'anhu melewati tempat tersebut, maka ia membeli budak perempuan itu dan memerdekakannya karena Allah.

Kemudian Abi bakar radhiyallahu'anhu mengajak pembatunya Amir bin Fuhairah ke dalam islam, dan ketika ia masuk islam maka Abi bakar radhiyallahu'anhu memerdekakannya juga karena Allah.

Sebagaimana yang kita lihat bahwa Abi bakar radhiyallahu'anhu tidak membedakan antara budak laki-laki dan budak perempuan, yang kuat dan yang lemah, hal ini menjadi perhatian ayahnya yaitu Abi Quhafah, sehingga mengatakan kepada Abi bakar:

"Wahai anakku, saya melihat engkau memerdekakan budak yang lemah, coba kamu memerdekakan budak-budak yang kuat, sehingga mereka dapat melindungimu?

Kita masih ingat bahwa Abi Bakar radhiyallahu'anhu adalah seorang yang berasal dari suku yang lemah di sisi orang-orang Quraiys, maka Abi Bakar radhiyallahu'anhu berkata dengan penuh keimanan:

"Wahai ayahku, sesungguhnya saya melakukannya (ikhlas) karena Allah swt".

Maka Allah swt. Menurunkan sebuah ayat yang bercerita tentang beliau radhiyallahu'anhu:

"Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi, Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan". (QS. Al Lail: 17-21).

Ibn Jauzy rahimahullah mengatakan: "Ulama sepakat bahwa ayat ini turun mengenai Abi Bakar radhiyallahu'anhu".

Mari kita sama-sama membayangkan, sesungguhnya Allah swt. Menurunkan sebuah ayat yang menyaksikan ketakwaan Abi Bakar radhiyallahu'anhu, bahkan di katakan paling takwa, dan mempunyai niat yang ikhlas.

Abi Bakar radhiyallahu'anhu bersedekah, dan tidak mengharapkan balasan dari seseorangpun, ia melakukannya ikhlas karena Allah swt., kemudian perhatikan janji Allah swt. Yaitu: "Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan", bagaimanapun cara anda membayangkan mengenai pahala dan kenikmatan, maka anda tidak akan mungkin sanggup untuk membayangkan apa yang telah di janjikan Allah swt. Terhadap orang yang telah di beri janji oleh-Nya dengan keridahan-Nya " Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan". (QS. Al Lail: 17-21).

Di riwayatkan oleh Abi Daud di dalam sunannya dari Abi Hurairah radhiyallahu'anhu berkata: Rasulullah saw. bersabda: "sesungguhnya engkau wahai Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk surga dari umatku".

Ketika Abi Bakar radhiyallahu'anhu masuk islam beliau memiliki kekayaan sebanyak 40.000 dirham, kemudian beliau menginfakkannya secara keseluruhan di jalan Allah swt., sekitar 35.000 dirham beliau menginfakkannya di Makkah, sehingga yang tersisa hanya 5000 dirham saja, dan beliau membawanya ketika berhijrah dan menginfakkannya untuk keperluan Rasulullah saw. dan orang-orang mukmin, sehingga semuanya tidak ada lagi yang tersisa, atau katakan: hartanya masih tetap tersimpan rapih (karen ia membelanjakannya di jalan Allah) karena pada hakikatnya tidak habis".

Karena harta yang masih tetap tersimpan adalah harta yang di belanjakan di jalan Allah, dan yang habis adalah yang di belanjakan di selainnya, akan tetapi coba anda bayangkan jumlah dari harta yang di infakkan tersebut, kita harus mengetahui nilai jumlah 40.000 dirham ini di zaman kita sekarang ini, anda tidak boleh melupakan bahwa kita sedang bercerita tentang waktu atau sejarah yang telah berlalu sekitar 1400 tahun yang lalu, jika nilai mata uang (pond) mesir misalnya telah berubah sepuluh, duapuluh atau tigapuluh tahun, maka bagaimana dengan 1400 tahun yang telah lalu, mari kita bersama-sama menghitungnya dengan pelan-pelan.

Terdapat dalam beberapa hadits dari Rasulullah saw., bahwasanya beliau saw. membeli seekor kambing seharga 1 dirham". Oleh karena itu harta yang di miliki Abi Bakar radhiyallahu'anhu sama bandingannya dengan memiliki 40.000 ekor kambing, sedangkan di zaman kita sekarang,kita membeli seekor kambing rata-rata seharga 800 pond mesir, oleh karena itu Abi Bakar radhiyallahu'anhu memiliki harta sekitar 32 juta pond mesir, artinya lebih dari 6 juta dollar, dan tentu saja dirham pada waktu itu sangat tinggi nilainya, karena pada waktu itu tidak ada inflasi, dan krisis ekonomi dan lain sebagainya.

Subhanallah, beliau menginfakkan seluruh harta yang jumlahnya besar ini di jalan Allah swt, beliau juga adalah seorang pedagang yang tidak meninggalkan aktivitasnya, maka mungkin saja di sana terdapat penginfakan harta (di jalan Allah) dengan jumlah yang lebih besar dari jumlah yang tersimpan ini, lebih dari hal ini beliau juga berinfak di Madinah al Munawwarah dari hasil perdagangannya di sana, beliau telah menginfakkan seluruh hartanya pada periode Makkah sebagaimana yang telah kita jelaskan, maka beliaupun mengulangi usahanya kembali, sebagai contoh beliau menginfakkan hartanya di Perang Tabuk 4000 dirham sekitar ( 1 juta 500.000 pond Mesir) ini adalah hartanya secara keseluruhan, dan beliau tidak menyisakan buat keluarganya kecuali seperti apa yang beliau katakan:

"Aku meninggalkan buat mereka Allah swt. Dan Rasul-Nya".

Wallahu a'lam bi shshawaab

Semoga …bermanfaat & berfaedah artikel ini untuk lebih mendekatkan diri kita kepada sang pencipta (allah s.w.t)
Kembali Ke Atas Go down
http://indofal.top-me.com
 
Abu Bakar radhiyallahu'anhu
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
subhannaallah wabihamdih :: muhammad rosulullah s.a.w :: muhammad rosullah s.a.w :: kisah para nabi-
Navigasi: