subhannaallah wabihamdih

subhannaallah wabihamdih

membahas tentang agama islam.sunah rosulullah s.a.w, hidup & kehidupan
 
IndeksportalCalendarFAQPencarianAnggotaPendaftaranLogin
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
bismillahirohmanirohim
--


border="0"


border="0"


border="0"

like/ twitter/+1
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Latest topics
» الشيخ محمد العريفي - ضع بصمتك في الخمور 1 - 7
Mon Dec 12, 2011 12:55 pm by indofal

» ceramah syeh afeefuddin
Thu Dec 08, 2011 11:57 am by indofal

» wafat gusdur mantan presiden RI
Mon Dec 05, 2011 11:00 am by indofal

» kumpulan bayi-bayi lucu
Mon Dec 05, 2011 10:53 am by indofal

» Islam sebagai Landasan Politik Melayu
Wed Nov 30, 2011 1:56 pm by indofal

» Lumpur Lapindo dan Dongeng Timun Emas
Wed Nov 30, 2011 1:51 pm by indofal

» Dahsyatnya Pengaruh Dongeng
Wed Nov 30, 2011 1:48 pm by indofal

» Bau Nyale, Teladan Berkorban Pemimpin
Wed Nov 30, 2011 1:45 pm by indofal

» Sumbangan Bahasa Melayu Riau Kepada Bahasa Indonesia
Wed Nov 30, 2011 1:41 pm by indofal

Top posters
indofal
 
barkah
 
Mujahid R. Faezan
 
lestarie
 
NurFirman
 
reva_rn
 

Share | 
 

 Arti perkawinan menurut islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Mujahid R. Faezan
anggota perak
anggota perak


Jumlah posting : 12
field name : 0
Join date : 15.01.11
Age : 41
Lokasi : lubuk linggau (sumatra selatan)

PostSubyek: Arti perkawinan menurut islam   Mon Jan 17, 2011 8:01 pm

Bila sebut perkawinan orang akan senyum karena terbayangkan hubungan kelamin suami isteri, serta hiburan dan keseronokan-keseronokan perkawinan. Begitulah masyarakat dipahamkan. Buku-buku tentang perkawinan yang sudah banyak di pasaran saya dapati setengah-setengahnya itu menjadikan sex sebagai matlamat penulis. Sedikit sekali penulis yang melihat perkawinan di sudut tujuan sebenarnya yang dikehendaki Islam serta falsafah dan hikmah pelaksanaannya.

Sebenarnya Islam menetapkan bahwa rumah tangga adalah tapak dan asas untuk mendirikan masyarakat Islam dan negara Islam. Seterusnya empayar Islam artinya perjuangan untuk mendapatkan empayar Islam atau sekurang-kurangnya negara atau negeri Islam mesti bermula daripada rumah tangga Islam. Sekiranya berjayalah ditegakkan rumah tangga-rumah tangga Islam, harapan untuk tercetusnya masyarakat Islam ada. Tapi jika tidak ada rumah tangga Islam, jangan berharap lah akan berlaku daulah Islamiah dll.

Apa artinya negara Islam? Tapi cara hidup Islam tak jadi budaya masyarakatnya dan rumah tangganya ? Bukankah Islam itu sistem hidup, sistem pendidikan, sistem sosial, politik, sistem ekonomi, sistem kesehatan, perhubungan, sistem pertanian, sistem perindustrian, ketentaraaan, perlembagaan, sistem pemerintahan dsb? Pelaksananya sistem ialah oleh manusia-manusia yang terlibat yang mampu, untuk melaksanakan segala fardhu ain dan fardhu kifayah. Tanpa manusia yang berjiwa Islam, bagaimana Islam nak ditegakkan? Oleh itu kerja-kerja melahirkan individu-individu muslim yang sanggup praktikan agamanya mestilah diusahakan di rumah. Dia tidak boleh bermula dalam masyarakat. Sebab masyarakat adalah himpunan rumah tangga. Bagaimana masyarakat nak Islam kalau rumah tangga tak Islam?

Kalau begitu perkawinan sebenarnya ialah untuk memulakan masyarakat Islam kecil. Suami dan isteri tentunya orang-orang yang mampu menjayakannya. Jika tidak, mana mungkin ianya dapat menjadi kenyataan? Suami isteri mestilah orang-orang yang tentu menjadi ketua keluarga dan pengurus rumah tangga secara Islam. Awal-awal lagi mereka sudah paham bahwa perkawinan bukan soal kecil, bukan sekedar persoalan hiburan dan sex semata. Perkawinan juga ialah persoalan masyarakat terhubung kait dengan keselamatan dan nasib masa depan umat Islam samada kita tersedar atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung.

Perkawinan besar artinya, ia umpama kilang yang melahirkan batu bata yang baik-baik. Bila batu bata terkumpul banyak, arkitek akan bina bangunan yang tersergah gagah. Di sanalah berjalan segala sistem masyarakat.

Mari kita usahakan perkawinan Islam. Mulakan dengan suami isteri Islam. Jalankan sistem kekeluargaan Islam. Anak-anak adalah masyarakat kecil yang turut membangunkan Islam. Insya Allah saya akan bersama saudara membantu untuk mengusahakannnya. Ikutilah judul-judul buku ini selanjutnya.

BAB I
Arti perkawinan menurut Islam

Rasulullah bersabda artinya Dikawini seseorang perempuan itu karena 4 sebab karena rupa, kekayaan, keturunan dan ugama, pilihlah yang beragama.

Begitulah Rasulullah junjungan memberi arti tentang Perkawinan. Bertuahlah umat Islam yang dapat mengikut nasehat pemimpin dan gurunya itu. Baginda Rasulullah dapat baca hati manusia ini dalam memilih jodoh. Kecenderungan kebanyakan lelaki dan wanita dalam memilih pasangan rupanya ialah karena kecantikan. Yang kedua ialah karena kekayaan. Yang ketiga karena keturunan. Ugama syarat akhir. Tapi oleh penghulu manusia ini, ditetapkan pilihan utama ialah agamanya. Mampukah ummatnya menerima dan memahami serta mematuhi kata-kata kekasih Allah ini?

Marilah saudara kita semua berusaha untuk memahami apa rahasianya Rasulullah memilih ugama sebagai syarat utama memilih suami atau isteri. Untuk itu saya mulakan dengan menyoal beberapa soalan. Jawaban kepada soalan ini akan menentukan bahagia atau tidaknya Perkawinan kita. Moga-moga Allah bantu saya untuk membuktikan bahwa pilihan Rasulullah itulah yang paling tepat. Ia menjamin kebahagiaan hakiki pada suami isteri.

1. Mengapa saudara-saudari berkawin atau ingin berkawin?
2. Apa matlamat Suami-Isteri berkawin?
3. Suami atau isteri, lelaki atau perempuan yang macam mana yang telah dipilih atau akan dipilih? Yang cantik rupa parasnya, tampan dan tegak lelakinya? Yang kaya, berada dan bergaya? Yang keluarganya ternama, keturunan orang berpangkat atau yang beragama dan berakhlak mulia?

Biasanya kalau kita tanya orang sekarang, orang akhir zaman yang memuja teknologi canggih, mereka akan jawab, tujuan dan matlamat saya kawin ialah untuk berseronok-seronok dan memuaskan nafsu seks, supaya hidup tidak sepi sendirian. Itulah kebahagiaan. Sebab itu saya akan pilih pasangan yang cantik atau handsome serta yang ada kerja besar, gaji besar, anak orang besar, bolehlah hidup mewah dan bersuka-suka.

Disini saya akan bahaskan betulkah jawaban tadi itu samada dari segi tujuan dan matlamat serta cara memilih itu benar-benar membawa bahagia yang menjadi matlamat perkawinan itu?

a. Memang di hari kita menjadi raja sehari itu memang kita bagaikan raja dan rasa pun macam raja. Bangga, indah, dan sangat terhibur. Umumnya begitulah perasaan pengantin, sedikit sekali yang bersedih dihari perkawinan. Tapi mengapa setahun atau 3 tahun kemudian rumah tangga jadi medan pertengkaran, gelanggang pergaduhan dan akhirnya membawa perceraian. Inikah sudahnya perkawinan? mengapa kekasih kita bertukar menjadi musuh kita dan sangat menyiksakan hidup kita?

Sebenarnya, ada 2 kesilapan kita.

1. Bila kita niat nak kawin itu ialah untuk berseronok-seronok, artinya kita memilih cara hidup hewan. Coba perhatikan kucing misalnya. Mula-mula dia berseronok-seronok, terus melakukan hubungan kelamin, tak lama lepas itu diapun bergaduh. Selesai saja keinginan nafsunya dia tinggalkan pasangannya. Macam mana boleh dia bercumbu-cumbu kemudian dia bercakar-cakar? Ya, karena kucing menghadkan tujuan kawin hanya untuk itu. Tiada apa lagi dari pasangannnya yang diperlukan selain sex dan suka-suka. Maka bila ada kepentingannya tercabar oleh suami/ isterinya, maka dia tak pikir panjang teruslah bergaduh.

Kalaulah kucing itu boleh perbagaikan tujuan dia berkawin dengan pasangannya, tentu masa dia untuk terus hidup bersama dengan mesra jadi lebih lama. Misalnya kucing itu niatkan juga nak dapat anak. Jadi sempatlah mereka hidup bersama sampai dapat anak. Tapi tidak, anak yang lahir bukan diniatkan maka tinggallah kucing betina sendiri jaga anak, si jantan entah kemana.

Manusia sepatutnya sejak remaja sudah difahamkan tujuan dan falsafah Perkawinan nya nanti. Bahwa ikatan suami isteri adalah sesuatu yang mesti dipertahankan sampai mati. Anak-anak adalah aset paling penting, paling berharga dalam hidup di dunia dan di akhirat. Anak ramai lebih baik dari anak tak ramai. Didik anak adalah tanggung jawab. Rumah tangga adalah syurga yang mesti dipertahankan sepanjang hayat. Dan banyak lagi sebenarnya ilmu perkawinan yang mesti di semaikan dalam diri-diri remaja. Supaya di hari perkawinan mereka itu mereka tahu bahwa berkawin bukan ertinya untuk berseronok-seronok saja dan mereka mesti sedar bahwa pasangan mereka itu bukan sekedar teman tidur.

2. Kalaulah tujuan dan rancangan perkawinan ialah untuk berseronok-seronok, menjamu selera sex serta mengelak kesepian ertinya kita telah merancang perkawinan jangka pendek. Perkawinan kita mungkin tak panjang umurnya atau tak kekal seronok dan bahagianya. Sebab nafsu untuk berseronok sex ini bukannya setiap waktu dan selamanya. Kita mesti ingat dalam hidup ini mungkin 50 persen saja waktu waktu kita sehat dan gembira. Selebihnya adalah waktu-waktu Allah datangkan ujian. Lebih-lebih lagi dalam perkawinan. Masa seronok dan gembira itu tak sampai 3 tahun. Selebihnya berpuluh-puluh tahun lagi itu ialah waktu-waktu bertanggung jawab, susah, sakit, masalah dan 1001 ragam rumah tangga. Apa jadi kalau semua itu mendatang dalam rumah tangga kita? Waktu suami atau isteri sakit. Waktu susah karena menanggung beban keluarga. Waktu anak meragam dan perlukan perhatian waktu orang tua/ibu bapa menuntut sesuatu. Dan lebih lebih lagi waktu umur sudah meningkat, dimana kecantikan dan kegagahan sudah pudar dan menurun upaya untuk seronok dan sex kurang, apa akan jadi?

Berdasarkan pengalaman setiap orang akhir zaman ini, apa yang biasanya berlaku pada rumah tangga mereka itu tadi ialah perceraian. Suami ceraikan atau isteri minta cerai. Kalaupun tidak sanggup bercerai karena ada anak-anak dan masing-masing tidak sanggup berpisah dengan anak-anak, tapi sebenarnya perpecahan tetap berlaku. Kemesraan tidak wujud, hubungan suami isteri renggang, masing-masing mudah buat karenah, mudah tersinggung, mudah membebel, marah-marah dan kalau berkrisis akan berkepanjangan. Begitulah bila nafsu tidak dilayan, emosi memberontak. Kita pula tiada upaya menolaknya karena diri tidak dipersiapkan untuk itu. Kita hanya berfikir yang perkawinan itu semata-mata suatu hiburan yang menyeronokkan. Walhal perkawinan ia suatu perjuangan besar yang berkepenjangan. Kecundanglah siapa yang tidak betul-betul bersedia untuk menghadapinya. Anak-anak jadi mangsa. Itulah hujjah saya terhadap persoalan tujuan kawin. Maksud saya dalam Islam kebahagiaan rumah tangga bukan ditunjang oleh kepuasan sex.

b. Seterusnya kita bahaskan pula persoalan ciri-ciri calon yang hendak dipilih. Apa salahnya memilih lelaki atau perempuan atas dasar rupa paras yang cantik atau fizikal tampan?

Pada saya, memilih jodoh diukur rupa paras sebagai keutamaannnya adalah bahaya. Kalau tak jangka pendek tentu jangka panjang bahayanya pasti berlaku. Hujjah-hujjah:

1. Cantik dan tampan bukan selamanya. Mungkin saja ditimpa sakit yang boleh menghilangkan cantik dan tampan itu. Atau akibat teruk kerja atau kerja beratpun boleh hilang rupa cantik atau handsome. Apa lagi kita memasuki umur tua, cantik dan kacak mesti hilang.

Maka diwaktu itu apa kan jadi dengan ikatan perkawinan itu? Tentunya jadi longgar. Sebab tarikan untuk melakukan hubungan kelamin sudah lemah maka berahi untuk berkelamin sudah lemah. Ditambah dengan adanya perempuan cantik dan lelaki tampan di tempat kerja lebih merangsang nafsu maka, maka di rumah jadi makin kurang terangsang. Maka bila nafsu kelamin tidak dilayan dengan cukup, suami isteri mudah saja bergaduh. Boleh bawa kepada perceraian. Kalau tidak berceraipun, oleh karena anak sudah banyak, masing-masing tidak mahu terpisah dengan anak namun hubungan sudah tidak indah lagi. Berlaku lah kerenggangan, marah-marah, singgung menyinggung, benci membenci dan salah menyalahkan. Inilah bahayanya. Anak-anak pula jadi mangsa, mengalami tekanan jiwa berhadapan dengan rumah tangga yang porak poranda. Mungkin saja mereka jadi liar, renggang dengan ibu-bapa, bencikan rumah, suka cari hiburan di luar. Terdedahlah mereka kepada dadah, arak, bohsia dan bohjan.

2. Bahayanya lagi berkawin denga perempuan atas dasar cantiknya saja ialah begini:
Umumnya perempuan -perempuan cantik ini pula yang dia sedar dia memang cantik, yang dia tahu suami nya pun memang mengahwininya pun atas dasar cantiknyalah maka lumrah terjadi perempuan ini akan gunakan kecantikannya itu sebagai strategi. Yakni digunakannya kecantikan nya itu untuk mengumpan apa saja hajatnya pada suami nya. Macam-macamlah yang diminta dari suaminya. Lepas satu satu tanpa mengira suaminya mampu atau tidak. Yang dia tahu dapat, dapat, dapat! Kalau tak dapat apa yang dihajat berjalanlah jarum strateginya, ia itu ia akan buat perangai dan macam kerenah. Masam muka, merajuk, mengomel, berleter-leter atau lari ke rumah ibu ayah bahkan boleh saja dia minta cerai kareana dia tahu suaminya sayang padanya tak kan diceraikan nya, sebab bukan sennag nak cari perempuan cantik macam dia. Selagi hajat tak sampai, selama itulah dia gunakan strategi cantiknya itu untuk menekan suami. Dan begitu lah suami dilakukanya sepanjang perkawinannya. Boleh tahan ke si suami? Lama kelamaan tak tahan juga.. Akhirnya suami sanggup ceraikan, daripada tersiksa hidup. Kalaupun tak diceraikan, sebab nak pertahankan cantik, bahagiakah hidup? Apa jadi dengan anak-anaknya?

Saudara jawablah sebagai kesimpulan bahwa kecantikan saja bukanlah kebahagiaan yang sebenar.

c. Memilih jodoh atas dasar kekayaan. Memang ada orang yang memilih suami atau isteri atas dasar gaji besar atau keturunan orang kaya. Pada saya pilihan ini pun berbahaya. Hujjah saya:

1. Saya akui memang kekayaan adalah salah satu faktor membantu kemudahan hidup dalam rumah tangga. Tapi ia tidak menjamin kebahagiaan suami isteri. Bagaimana kalau kekayaan hilang, masing-masing jadi miskin? Tidak mustahil isteri dibuang kerja, kekayaan habis begitu saja atau suami jatuh miskin karena berbagai sebab, yang mungkin. Maka kalau ikatan kebahagaiaan sudah putus, ertinya putuslah kasih sayang. Bermulalah renggangnya suami isteri, rasa tidak senang satu sama lain, benci membenci, kata mengata, masam masam muka, salah menyalahkan, pergaduhan dan krisis sudah tidak terkawal. Pintu perceraianpun terbuka luas. Cerai atau tidak anak-anak tetap jadi mangsa seperti yang telah disebutkan sebelum ini. Cerai susah, tak ceraipun susah. Inilah akibat salah pilih. Karena kekayaan bukan keutamaan, dia tidak menjamin kebahagiaan keluarga.

2. Kalau perempuan kaya atau suami kaya dikawini atas dasar kekayaannya semata-mata, maka biasanya isteri tidak hormat sebab suami dia yang tanggung. Atau kalau tak tanggung pun, tapi dian boleh berdikari tak perlukan pemberian suami. Ada suami ke tiada suami ke sama saja dia boleh hidup sendiri, karena memiliki kekayaan. Apalagi kalau memang suami bersandar hidup nya pada isteri yang kaya, biasanya isteri akan perhambakan suami sesuka hati, di arahnya kesana, di arahnya kesini, suruh itu suruh ini, dia akan kontrol suami sesuka hati. Isteri jadi ‘queen control’. Habis kuasa suami, bahkan suami takutkan bini atau takutkan pak mertua dan mak mertua. Sebab isteri yang queen control ini biasanya disokong oleh ibu bapanya. Tidak mustahil suami akan ditengking hardik oleh isteri. Akibat mengahwini kekayaannya.

Berapa lama suami boleh tahan hidup begini? Mungkin dia akan cari perempuan lain. Binasa rumah tangga.

d. Ada orang yang berkawin karena keturunan seperti keturunan orang orang yang bangsawan, keturunan raja-raja, keturunan dato dato, keturunan orang-orang besar dan keturunan yang diukur dengan dunia semata-mata tanpa ikatan keagamaan, maka ia amat berbahaya. Lebih-lebih lagilah bahayanya kalau yang berketurunan itu ialah si isteri. Sebab suami sepatutnya ketua keluarga, yang kalau dia ada kelebihan dari isteri tiadalah salahnya. Tapi dalam keadaan tanpa agama, isteri pula lebih tinggi derajat keturunan dari suami, maka akan berlaku di suatu hari dalam rumah tangga mereka sewaktu ada perselisihan faham isteri akan menghina keturunan suami, mereka sekeluarga akan memandang rendah pada suami dengan penuh sombong sebab isteri bangsawan sombong dengan suami. Nanti suami akan rasa terhina (inferiority complex). Kasih sayang hilang, kemesraan tiada lagi, kebahagiaan cacat sama sekali. Akibat kawin anak raja.

e. Maka kawinilah perempuan/lelaki karena Agamanya. Karena ia adalah pilihan Allah, pilihan Rasul, pilihan wali-wali Allah, yakni orang-orang Allah yang melihat kebahagiaan rumah tangga , ibu bapa dan anak-anak adalah karena agamanya. Ibu bapa anak-anak, yang tidak cantik bahkan cacat akan bahagia kalau ada ugama. Ibu bapa (suami isteri) serta anak-anak yang miskinakan bahagia kalau beragama.Ibu bapa/suami isteri, serta anak-anak mereka akan hidup tenang dan bahagia sekalipun mereka golongan orang bawahan dan rakyat jelata. Sebaliknya orang orang rupawan, hartawan dan bangsawan akan hidup dalam krisis rumah tangga dan anak-anak jika tiada agama! Mengapa, bagaimana? Apa ada pada agama hingga ia menjadi kunci kebahagiaan rumah tangga?

1. Memilih jodoh atas dasar agama artinya berkawin karena Allah untuk mengikut sunnah Rasul. Buat sesuatu karena Allah ertinya mengambil Allah sebagai tonggak kepimpinan, tempat rujuk, tempat mengadu dan sumber rezeki serta penyelesai masaalah. Kawin karena agama artinya meletakkan Allah peneraju rumah tangga. Allah akan jaga dan bela rumah tangga ini, agar selamat dari syeitan, nafsu dan tipuan dunia.

2. Memilih jodoh atas dasar agamanya ertinya menjadikan sistem rumah tangga itu berjalan mengikut sunnah Rasulullah SAW. Kedua suami isteri tentu setuju untuk meniru Rasulullah SAW dalam setiap aspek hidup mereka. Sekalipun waktu ada masalah dan waktu waktu kritikal. Mereka ada panduan dan tempat rujuk serta tahu menyelamatkan keadaan-keadaan yang tertentu.

3. Memilih jodoh karena agamanya artinya lelaki atau wanita itu ada ilmu. Sebab ugama itu ialah ilmu. Ilmu ugama yang memandu segala tindak-tanduk kehidupan sebagai suami atau isteri. Ilmu untuk taat, untuk bertanggung jawab, untuk bersyukur, untuk sabar, untuk membuat kebaikan-kebaikan dalam keluarga. Juga ilmu untuk layan suami atau isteri serta ilmu untuk menjaga anak-anak.

4. Memilih jodoh karena ugama artinya mendapatkan teman hidup yang berakhlak. Akhlak ialah bunga diri, yakni daya tarik. Orang berakhlak ialah orang yang ada daya untuk menarik orang kepada nya. Orang jadi suka dan sayang kepada orang yang berakhlak.
Siapa tak sayang pada orang pemurah?
Siapa tak senang dengan orang pemaaf?
Siapa tak suka pada orang lemah lembut?
Siapa tak jatuh hati pada orang peramah dan suka menolong?
Siapa tak cinta pada orang merendah diri?
Siapa yang tak kasih kepada orang yang bertolak angsur atau mengalah?

Bagaimana keadaan rumah tangga yang suami isteri ialah orang yang bertanggung jawab, pemurah, pemaaf, lemah lembut, peramah, suka menolong, merendah diri, bertolak ansur, bertimbang rasa, bekerja sama, khidmat mengkhidmati, hormat menghormati? Apa perasaan suami yang isterinya senantiasa mengutamakan suami, membesarkan dan taat serta patuh pada semua kehendaknya? Apa perasaan isteri yang suaminya memberi kasih sayang, bertanggung jawab, bertimbang rasa, memaafkan dan belas kasihan padanya?

Jawabannya tentu saudara boleh beri. Dan sekaligus saudara tentu paham bahwa itulah dia besarnya peranan agama dalam perkawinan. Dia bukan saja memberi hiburan dalam perkawinan tapi boleh menyelesaikan masalah-masalah dan ujian-ujian berumah tangga. Pada mereka setiap kali rumah tangga dilanda masalah, mereka akan dapat pengalaman baru untuk post-mortem keluarga dan masing-masing akan buat peningkatan selepas itu. Ertinya mereka telah lulus dalam ujian tersebut sebab mereka telah buat persediaan untuk itu. Mutu rumah tangga akan meningkat lagi dan terus meningkat.

Suami isteri yang berugama menjadikan sembahyang jamaah program wajib. Makan bersama, jadwal pelajaran anak-anak ditetapkan, disiplin dan akhlak anak-anak dipandu dan ditekankan secara Islami. Dosa, pahala, syurga, neraka, Islam, akhirat jadi bahan bualan mereka. Syariat Allah perjuangan mereka. Kekayaan dunia memang diusahakan namun dipandang kecil, bukan bualan dan jauh sekali jadi matlamat keluarga mereka.

Dengan kaedah dan falsafah perkawinan yang demikian itu, insya Allah rumah tangga mereka akan temui ketenangan. Suami akan senang dengan isteri. Isteri lebih lagi sayangkan suami. Anak rasa terhibur dan menghibur. Selamatlah mereka dunia akhirat. Mereka dapat merasa syurga dunia dan insya Allah syurga akhirat.

Allah berfirman: (Ar Rum)
Benarlah sudah kaedah Rasulullah bahwa memilih jodoh mesti karena agamanya. Dengan agama, perempuan cantik lagi kaya, serta berketurunan orang besar, jika direzkikan pada saudara, ertinya saudara telah dapat bidadari di dunia lagi. Mungkin ada yang berkata, saya lihat ada yang beragama pun tak sempurna rumah tangganya. Dan sebaliknya ada juga orang tak beragama dan orang-orang kafir boleh bahagia.
Kembali Ke Atas Go down
indofal
Admin


Jumlah posting : 221
field name : 0
Join date : 25.12.10
Age : 42
Lokasi : http://id.netlog.com/indofal

PostSubyek: Re: Arti perkawinan menurut islam   Tue Jan 18, 2011 12:09 am



Terakhir diubah oleh indofal tanggal Fri Jan 21, 2011 7:36 am, total 3 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
http://indofal.top-me.com
Mujahid R. Faezan
anggota perak
anggota perak


Jumlah posting : 12
field name : 0
Join date : 15.01.11
Age : 41
Lokasi : lubuk linggau (sumatra selatan)

PostSubyek: Arti perkawinan bab 2   Tue Jan 18, 2011 1:10 am

BAB II


Tujuan dan Perlaksanaan Perkawinan


Sesudah membahaskan ciri-ciri yang patut ada pada calon-calon yang hendak mendirikan rumah tangga seperti yang disukai Allah dan Rasul, maka tentu kita sama-sama ingin tahu apa pula tujuan Allah dan Rasul mengahwinkan orang orang yang beragama tadi? Kalaulah tujuan untuk berhibur dan sex, rasanya tanpa ikatan perkawinan pun boleh berlaku. Lihat orang-orang yang tidak beragama hari ini ada yang memilih untuk hidup bersama bagai suami isteri tanpa ikatan perkawinan. Sebab mereka tidak tahu apa bedanya kawin dengan tak kawin. Bahkan pada mereka kawin lebih susah dari tak kawin. Sebab itu lebih baik hidup berdua tanpa kawin. Itulah pendapat nafsu-nafsu atau pendapat otak semata-mata tanpa roh tauhid dan tanpa ilmu agama.



Pada pendapat saya, tujuan manusia dijadikan lelaki dan perempuan, saling pula mempunyai daya tarik antara satu sama lain, lalu diperintahkan kawin bagi yang mampu, adalah sebab-sebabnya sebagai berikut:



1. Allah dan RasulNya memerintahkan berlakunya hubungan sex secara sah dan halal antara hamba-hambaNya. Supaya orang-orang yang berfikir dan beriman merasakan hebatNya Allah karena memperlakukan hamba-hambaNya suami isteri sedemikian itu! Sesuatu yang sangat indah dan mengasyikkan tapipun sungguh memalukan! Rahasia paling sulit antara dua insan yang diikat oleh perkawinan. Tentu ibu bapa atau anak-anak pun tidak mungkin dapat melihat rahasia ini! Maha kuasa Allah.



2. Sungguhpun hubungan jantina boleh dibuat tanpa kawin, berlainan agama dan lain-lain, namun Allah mengharamkan itu semua. Siapa yang terlibat dianggap berzina dan ia adalah dosa besar. Jangan sesekali orang beriman melakukan zina!
Memang Allah tahu kita tak mampu menahan keinginan sex ini, sebab itu Allah wajibkan kawin jangan sekali berzina (keturunan berzina tak dapat jadi wali). Kawinlah sebara Islam mudah saja. Tak perlu wang yang banyak, persiapan yang berbagai, cukup mas kawin nikah dan kenduri sekadarnya! Ia sudah membolihkan kita melakukan sex secara sah halal.




3. Setiap orang suami atau isteri mesti sentiasa meniatkan untuk menghiburkan pasangannya. Memang tujuan asas perkawinan ialah untuk berhibur dengan pasangan. Kalau masing-masing tak mampu menghiburkan pasangan baik tak payah kawin.
Jadi supaya kita dapat pahala dan dapat mengisi perkawinan dengan baik,
hendaklah kita niat usahakan menghiburkan kekasih kita Itu di semua masa atau tempat dalam bentuk apa juga yang diperlukan. Jangan sekali-kali kita berniat dan usaha untuk menyakitkan hati suami atau isteri.



4. Tentu kita paham bahwa hasil berhibur dan melakukan hubungan jantina, biasanya kita dapat anak. Anak yang sah dan halal. Itulah sunatullah. Melahirkan kita di dunia hasil daripada bercintanya kedua ibu bapa kita. Tanpa hubungan itu tak adalah anak. Putuslah zuriat. Pelek juga ya ketentuan Allah ini, mencipta manusia hasil paduan dua orang. Lahirlah anak bersana dan karena ia adalah buah dari kasih sayang, jadilah anak itu dengan kuasa Allah. Buah hati ayah bundanya. Kalau begitulah jadinya perkawinan, yakni mendapat anak, maka supaya sesuai dengan kehendak Allah hendaklah pasangan suami isteri paham bahwa tujuan digabungkan dua orang manusia di bawah satu bumbung inilah untuk mendapatkan anak, membesarkan keluarga dan memulakan sebuah masyarakat kecil.



5. Bagi yang tiada anak, tidak salah mengambil anak angkat. Jika tidakpun suami isteri perlu faham bahwa, Allah mahu berlakunya kepimpinan Islam dalam rumah tangga. Suami ketua, isteri pengikur. Suami mesti bertanggung jawab, isteri wajib taat, suami menyediakan keperluan, isteri menjaga dan menguruskannya.
Suami jadi imam sembahyang, isteri makmum. artinya suami kena tahu bagaimana untuk bertanggung jawab sebagai ketua dan imam manakala isteri pula kena tahu bagaimana untuk jadi pengikut (taat) makmum yang baik. Kalau ini boleh dimulakan dan dilatih di rumah, Insya Allah akan lahirlah pemimpin-pemimpin besar ke tengah masyarakat dan juga pengikut atau rakyat sebenar pada negaranya. Sebab rumah tangga ialah masyarakat kecil yang memulakan masyarakat besar. Baik rumah tangga baiklah masyarakat.



6. Rasulullah sama menegaskan bahwa Baginda berbangga dengan ramainya pengikut atau umatnya. artinya Rasulullah suka perkawinan yang boleh melahirkan ramai anak, supaya bilangan umatnya itu paling ramai dan Baginda akan bangga nanti di akhirat. Oleh itu niatkanlah pula bahwa perkawinan ini untuk menghiburkan hati Rasulullah SAW. Memang seorang muslim bertanggung jawab menghiburkan hati rasulnya sebab Allah sudah perintahkan supaya kita sentiasa mencari keridhaan-Nya, Dia juga perintahkan kita untuk hiburkan hati kekasihNya yaitu Rasulullah
SAW. Maka melalui perkawinan selain untuk menghiburkan kita sendiri,
hiburkanlah juga Rasul kita itu. Bergembira dengan apa yang jadi kegembiraan Rasul melalui salah satu sifat orang mukmin.



7. Sekiranya kita mampu maka coba dapatkan seramai-ramai anak. Dengan maksud nak ramaikan umat Islam di muka bumi ini.
Bila umat Islam ramai, moga-moga dapat jadi bangsa yang kuat, yang mampu Islamkan bumi ini. Siapa yang sayangkan Islam, ada cita-cita untuk Islamkan bumi ini sesungguhnya dia tidak dapat lari dari hakikat bahwa perkawinannya mesti dirancang untuk dapatkan seramai-ramai anak. Demikianlah sepatutnya seorang pejuang Islam menjadikan perkawinannya sebagai sesuatu yang amat besar artinya kepada perjuangan sejagat. Bukannya sekedar untuk memuaskan nafsu sex.



8. Bila anak sudah lahir, sudah besar, sudah ramai
mungkin cucu-cucu pun sudah ada, maka rumah tangga sudah boleh dipelbagaikan fungsinya. Inilah masanya seorang Muslim yang beriman tunggu-tunggukan, yaitu menjadikan rumah tangganya sebuah
masyarakat Islam kecil. Seluruh cita-cita Islam nya ditumpahkan kepada anak-anaknya. Roh tauhid diusaha semaikan dalam dada sedari bayi lagi. Allah, rasul dilagu-lagukan, dibual-bualkan dan diceritakan supaya anak-anak kenal, yakin dan taat sepenuhnya. Sembahyang jemaah 5 kali sehari dipastikan berlaku dalam rumahnya. Waktu sembahyang rumah seolah-olah mesjid, ada adzan, iqamah, imam, makmum bersaf-saf, berpakaian,
bergaul, berekonomi, makan minum, memasak, belajar, tidur baring, berehat,
berhibur, berkenduri-kendara, bersuka, nikah kawin dan seluruh keperluan hidup berkeluarga diterapkan cara Islam supaya anak-anak dan cucu dapat menjadikan Islam atau sunnah nabi itu cara hidupnya, supaya bila besar nanti syariat Allah tidak akan dipersoalkan, diragukan atau ditentang pelaksanaannya. Bahkan kalau boleh binalah mereka jadi
pejuang-pejuang Islam yang menyambung perjuangan ibu ayah atau datuk neneknya.
Memang umat Islam yang tidak rusak jiwanya sangat menginginkan agar perjuangan Islam terus sambung menyambung dari generasi ke generasi oleh anak cucu mereka.
Doa mereka ketika memohon dapatkan anak dari Allah SWT, ialah dengan tujuan agar anak-anak itu akan menjadi penyambung perjuangan mereka.



9. Perjuangan untuk melahirkan masyarakat Islam yang indah itu, sebagaimana masyarakat salafussoleh, 300 tahun sejak zaman
Rasulullah SAW rasanya sangat sulit sekali. Islam yang tinggal hanyalah dalam
soal aqidah dan ibadah, itupun tidak semua umat Islam melakukan. Apa yang boleh dibuat ialah setiap keluarga usahakan terjadinya masyarakat Islam kecil dalam keluarga masing-masing. Sebab itu kita sangat ingin sekali agar setiap perkawinan dan setiap keluarga dapat menjadikan rumah tangganya itu betul-betul sebuah masyarakat Islam kecil. Mudah-mudahan dari masyarakat Islam kecil ini tercetuslah masyarakat Islam yang besar dengan izin Allah.



10. Kalaulah demikian peranan anak-anak tidak salah rasanya saya istilahkan bahwa anak-anak adalah aset untuk ibu ayahnya memperjuangkan Islam sekaligus anak-anak itu juga adalah harta dan tenaga kepada Islam.



11. Perkawinan sangat menguntungkan karena bilamana anak-anak dapat dididik kepada Islam, kita akan mendapat pahala yang besar. Seterusnya kalau anak-anak kita berkawin meneruskan perjuangan kita kepada cucu-cucu kita, pahalanya terus kita terima artinya pahala dan jariah
itu sambung menyambung sampai kita mati. Artinya anak-anak itu adalah aset simpanan kita di akhirat.



12. Perkawinan hikmahnya yang cukup besar ialah penyambung zuriat yang akan membawa agama dari generasi ke generasi tak putus-putusnya ke generasi terakhir dunia. Kita berbangga karena agama kita ada penyambungnya di samping keturunan kita dapat dikesan asal-usulnya.



Demikianlah apa yang dipahamkan kepada saya tentang tujuan perkawinan menurut Islam. Rupanya perkawinan bukan persoalan individu semata-mata. Allah swt menetapkan ia adalah proses untuk menyempurnakan perjuangan Islam. Dari sanalah bermulanya masyarakat Islam seterusnya negara Islam dan dunia Islam.



Patutlah Allah menegaskan bahwa kelahiran seorang bayi ke dunia adalah kemunculan seorang khalifah Tuhan. Yaitu hadir lagi seorang pemimpin untuk turut mengIslamkan bumi Allah ini. Manakala ia berkawin maka Allah perintahkan berkawinlah atasdasar agama atau atas dasar Islam. Supaya khlaifah tadi dapat mengislamkan rumah tangganya. Bukan khlaifah lah namanya kalau rumah tangga pun tak boleh di Islamkan.



Hebat sekali ajaran Islam. Perjuangan umatnya pun membawa mesej perjuangan. Kalaulah ianya dapat sama-sama kita laksanakan berarti kita sedang menjalin rangkaian unit-unit kecil masyarakat Islam. Nanti bila menjadi besar, maka itulah masyarakat Islam namanya. Syiarnya akan dapat dilihat di mana-mana saja di muka bumi Tuhan ini. Dengannya wajah dunia jadi begitu ceria dan gembira. Suasana masyarakatnya meriah dan bahagia. Waktu itu, manusia akan yakin dengan Islam. Mereka berbondong-bondong memeluknya. Insya Allah.


Terakhir diubah oleh Mujahid R. Faezan tanggal Thu Jan 20, 2011 12:26 am, total 2 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
indofal
Admin


Jumlah posting : 221
field name : 0
Join date : 25.12.10
Age : 42
Lokasi : http://id.netlog.com/indofal

PostSubyek: Re: Arti perkawinan menurut islam   Wed Jan 19, 2011 11:09 pm

assalamu alaikum warahmatullah wabarokatuh
akhi artikelmu bagus tapi sayang mungkin akhi terlalu terburu-buru jadi kalimatnya ada yg salah,alhamdulillah aku sudah memperbaikinya,teruslah semangat untuk menulis akhi,klo mau tulisan akhi rapi
setelah selesai nulis ,akhi copy tulisannya lalu klik center dan klik lagi ke kotak warna pilih warna yg akhi inginkan,itu semua terdapat di bagian kolom tengah,coba lagi ya
Kembali Ke Atas Go down
http://indofal.top-me.com
Mujahid R. Faezan
anggota perak
anggota perak


Jumlah posting : 12
field name : 0
Join date : 15.01.11
Age : 41
Lokasi : lubuk linggau (sumatra selatan)

PostSubyek: Re: Arti perkawinan menurut islam   Thu Jan 20, 2011 12:55 am

waalaikum salam, wrb.

syukron ukhty atas sarannya...
Kembali Ke Atas Go down
 
Arti perkawinan menurut islam
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» هدية الى اكل استاد مشرف على السنة الثالثة ثانوي
» بحث حول المخدرات
» Islam: Una carta para ti querida hermana
» الأنشودة الرائعة ( مولاي صالي .. Miracles Of Islam)

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
subhannaallah wabihamdih :: islam :: forum hukum-hukum islam :: hukum munakahat-
Navigasi: